Konsekuensi Keimanan Kepada Allah Ta'ala

Iman kepada Allah Ta'ala itu dapat dicapai melalui 'aqal dan memang harus demikian. Iman kepada Allah Ta'ala menjadi dasar yang kuat untuk mengimani perkara-perkara ghaib dan segala hal yang Allah Ta'ala firmankan. Selama kita masih mengimani Allah Ta'ala yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, maka kita pun wajib mengimani apa saja yang Allah Ta'ala firmankan, tidak peduli apakah dapat dijangkau oleh 'aqal ataupun di luar jangkauan 'aqal, semata-mata karena ia merupakan firman Allah Ta'ala.

Dari sini, kita wajib mengimani Hari Kebangkitan dan Hari Pengumpulan di Padang Mahsyar, Surga, Neraka, hisab, siksa adzab, malaikat, jin, syaithan, dan apa saja yang dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits qath'i. Iman seperti ini, meskipun diperoleh dengan cara naqli was sama' mengutip dan mendengarkan, namun pada hakikatnya ia merupakan iman 'aqliy (keimanan yang berdasarkan aqal), karena dasarnya telah dibuktikan oleh 'aqal.

Karena itulah, Aqidah seorang Muslim harus bersandar kepada 'aqal atau pada sesuatu yang 'aqal telah membuktikan kebenarannya. Seorang Muslim wajib meyakini apa yang telah dibuktikan oleh 'aqal atau apa yang telah dibuktikan oleh Al-Quran dan hadits mutawatir. Seorang Muslim haram mengimani segala hal yang tidak dibuktikan melalui 'aqal dan Al-Quran serta hadits mutawatir yang qath'i. Karena Aqidah tidak boleh diambil kecuali dari jalur yang pasti.

Berdasarkan hal itu, maka wajib bagi kita mengimani apa yang ada sebelum kehidupan dunia - Dialah Allah Ta'ala, dan wajib mengimani apa yang ada setelah kehidupan dunia - yaitu Yawmul Qiyamah, wajib pula mengimani bahwa perintah Allah Ta'ala merupakan penghubung antara kehidupan dunia dan kehidupan sebelumnya - yang dikaitkan dengan alasan penciptaan, dan bahwa perhitungan amal manusia atas apa yang ia kerjakan di kehidupan dunia merupakan penghubung antara kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia - yang dikaitkan kepada Hari Kebangkitan dan Hari Pengumpulan di Padang Mahsyar.

Maka, hendaknya kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Dan hendaknya keadaan manusia di dalam kehidupan dunia ini, haruslah terikat dengan hubungan tersebut. Jadi, manusia wajib menjalani kehidupan dunia ini sesuai dengan peraturan syariat Allah Ta'ala, dan wajib meyakini bahwa ia akan dihisab pada Hari Qiyamat atas semua amalan yang ia perbuat di kehidupan dunia.

Dengan ini, diraihlah al-Fikru al-Mustanir tentang apa yang ada di sebalik semesta alam, kehidupan dan manusia, didapatkan pula al-Fikru al-Mustanir tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; bahwasanya kehidupan dunia memiliki pertautan dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian, al-'Uqdah al-Kubra telah terurai dan tersolusikan secara sempurna oleh aqidah Islam.

Tatkala manusia telah selesai menguraikan problematika al-'Uqdah al-Kubra, maka ia dapat beralih memikirkan kehidupan dunia dan mewujudkan mafahim yang benar dan produktif tentang kehidupan ini. Penguraian problematika al-'Uqdah al-Kubra inilah yang menjadi asas dasar bagi berdirinya mabda ideologi Islam yang dijadikan sebagai metode menuju kebangkitan. Sekaligus asas dasar bagi berdirinya hadlarah mabda Islam. Bahkan, ia pun sebagai asas dasar yang melahirkan peraturan-peraturan dan tegaknya Daulah Islam. Jadi, asas dasar tegaknya Islam - secara fikrah (ide dasar) dan thariqah (metode pelaksanaan fikrah) - adalah aqidah Islam.

Allah Ta'ala berfirman dalam surat An-Nisa [4] ayat 136:

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada al-Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dan kepada al-Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Nya dan Hari Akhir, sungguh ia telah tersesat, sebuah kesesatan yang jauh."

Adapun ketika semua ini sudah terbukti dan iman kepada Allah Ta'ala menjadi suatu keharusan, maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengimani syariat Islam secara total, karena seluruh syariat Islam tertulis dalam al-Quran al-Karim dan ia dibawa oleh Rasulullah SAW. Apabila tidak beriman, berarti ia kafir. Karena itu, mengingkari atau menolak hukum-hukum syariat secara keseluruhan, atau hukum-hukum syariat yang qath'i secara rinci, dapat menyebabkan kekafiran. Tidak peduli apakah ia menolak hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan ibadat, atau mu'amalah, atau 'uqubat, atau math'umat, (semuanya sama saja dapat menjerumuskan ke dalam jurang kekafiran - pen).

Jadi, kufur terhadap ayat "wa aqiimuu ash-shalaata" (ayat ibadah tentang perintah mendirikan shalat) sama halnya kufur terhadap Al-Baqarah [2]:275 (ayat mu'amalat tentang kehalalan jual beli dan keharaman riba), sama juga kufur terhadap Al-Maidah [5]:38 (ayat uqubat tentang hukuman potong tangan bagi pencuri), kekufuran yang sama terhadap Al-Maidah [5]:3 (ayat math'umat tentang keharaman memakan bangkai, darah, babi dan hewan sembelihan tanpa menyebut nama Allah).

Mengimani syariat Allah Ta'ala tidak cukup dilandaskan pada 'aqal semata, bahkan ia harus disertai sikap penyerahan diri dan penerimaan secara total terhadap setiap sesuatu dan segala hal yang datang dari sisi Allah Ta'ala, sebagaimana Allah berfirman:

"Maka demi Rabb-mu, mereka itu tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu (Hai Muhammad) sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan ganjalan keberatan di dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan penerimaan yang total."
QS. An-Nisa [4]:65

Comments

Popular Posts

Total Pageviews